Jumat, 08 April 2016

Kisah Mbok Paini Hidup di Gubuk Reyot dan Makan Nasi Aking...


Mbok Paini (70) sudah 12 tahun tinggal sebatang kara di gubuk reyot di Dusun Paras, Desa Turipinggir, Kecamatan Megaluh, Jombang.

Gubuknya berdinding anyaman bambu yang sudah tidak utuh lagi alias bolong-bolong karena aus dimakan usia. Itu juga berdiri di tanah milik tetangganya yang tidak sampai hati melihat kondisi Mbok Paini karena sebelumnya dia tak memiliki tempat berteduh serta tidur saat malam tiba.

Rumah anyaman bambu (gedhek) yang menjadi tempat tinggal Paini juga tampak memprihatinkan. Gubuk berukuran sekitar 1, 5 x 3 meter itu sebagian sudah roboh.

Di dalam ruangan yang cukup gelap, lembab, serta pengap itu, hanya ada sebuah ranjang bambu beralaskan potongan tikar plastik dan bekas spanduk. Di situlah, Mbok Paini duduk, berbaring, serta tidur.

Bila malam tiba, bola lampu dengan aliran listrik menyala memberi penerangan di gubuk Mbok Paini. Itu juga pemberian tetangga.

Mbok Paini menuturkan, jika hujan deras turun, dia hanya bisa pasrah duduk di ranjang bambu yang diletakkan tidak jauh dari pintu depan gubuknya.

 " Ini untuk berjaga-jaga bila ada tanda-tanda mau roboh, saya bisa langsung lari keluar rumah. Bila hujan turun, saya memang tidak berani tidur, takut rumahnya roboh, apalagi di sini banyak yang bocor, ” ungkap Mbok Paini.

Di teras gubuknya, setumpuk genting yang dia tata jadi dapur berbahan bakar kayu. Itu merupakan tempat dia memasak dan merebus air. Untuk mandi ataupun buang hajat, dan mencuci, Paini menumpang di sumur milik tetangga.

Nasi aking

Sehari-hari, dia makan nasi sisa yang dikeringkan atau nasi aking pemberian para tetangga.

Maklum saja, Mbok Paini secara fisik memang sudah tidak mampu lagi mencari nafkah sendiri karena kondisinya yang sudah renta.

 " Saya baru memasak nasi kalau dapat beras sembako (raskin) dan pemberian tetangga, " kata Mbok Paini sambil mengusap air mata yang menetes di kedua pipinya, Kamis (7/4/2016).

Mbok Paini sebenarnya memiliki seorang anak, hasil pernikahannya dengan sang suami yang sudah lama meninggal. Anak semata wayangnya yang berprofesi sebagai abang becak itu kini tinggal di dusun sebelah bersama anak istrinya.

Kondisinya yang juga serba kekurangan membuat anaknya juga tidak mampu berbuat banyak terhadap Paini, ibunya.

 " Setiap bulan saya diberi anak saya uang Rp 20. 000, tetapi mana cukup untuk biaya hidup sebulan, " ungkap Paini.

Gagal bedah rumah

Ketua RT setempat, Gatot Sularko, menuturkan, Mbok Paini sebenarnya pernah diajak anaknya tinggal di rumahnya, tetapi dia tak kerasan serta memilih kembali ke gubuknya ini.

Gatot berharap, ada perhatian dari pemerintah daerah kepada Mbok Paini. Pasalnya sejauh ini, nenek malang itu sama sekali belum tersentuh bantuan apa pun.

 " Hanya setiap tiga bulan sekali dia mendapat bantuan beras untuk warga miskin (raskin) sebanyak 15 kilogram, ” kata Gatot.

Gatot menjelaskan, sebenarnya pemerintah pernah sempat akan melakukan bedah rumah pada kediaman Paini, tetapi karena tanahnya bukan milik Paini, akhirnya bedah rumah itu pun batal dilakukan.

 " Sampai sekarang belum ada solusi lain, " kata Gatot yang juga tetangga Mbok Paini.

Kisah Mbok Paini Hidup di Gubuk Reyot dan Makan Nasi Aking... Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Unknown